DENPASAR — Dalam menyambut akhir tahun 2023, Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Bali telah merencanakan untuk menonaktifkan operasional layanan kas, termasuk penyetoran dan penarikan untuk perbankan, pada tanggal 28-29 Desember 2023, serta 1 Januari 2024.
Kepala Perwakilan BI Provinsi Bali Erwin Soeriadimadja, di Denpasar, Selasa (19/12/2023) mengatakan, dalam menyambut hari natal dan libur akhir 2023, BI Bali memang menyesuaikan kegiatan operasional untuk transaksi tunai dan non-tunai. “Kegiatan layanan kas akan dibuka kembali pada 2 Januari 2024 pada pukul 08.30-12.00 WITA,” kata Erwin.
Untuk transaksi tunai, ia menjelaskan bahwa selama tiga hari layanan kas tidak beroperasi. Selain itu, layanan penukaran uang rusak dan klarifikasi uang rupiah yang diragukan keasliannya akan ditutup sementara sejak 15 Desember 2023. Pembelian uang rupiah bersambung (uncute notes) juga akan berhenti sementara sejak 12 Desember 2023.
Setelah 2 Januari 2024, layanan penukaran uang rusak akan tersedia setiap hari Kamis; sementara pembelian uang rupiah bersambung (uncute notes) akan dilayani setiap hari Senin, dan layanan klarifikasi uang rupiah yang diragukan keasliannya akan tersedia setiap hari Selasa dan Kamis. Transaksi non-tunai, seperti kegiatan operasional pertukaran warkat debit, akan dihentikan di Kantor Perwakilan BI Provinsi Bali pada 25-26 Desember 2023 dan 1 Januari 2024.
Sedangkan kegiatan operasional BI Fast Payment (BI-FAST), beroperasi normal 24 jam 7 hari dan dapat diakses melalui berbagai kanal yang disediakan oleh bank.
“Layanan perbankan yang berbasis elektronik atau digital seperti seperti mobile banking, internet banking, dan kanal pembayaran QRIS tetap dapat digunakan seperti biasanya sepanjang ditunjang dengan sarana jaringan komunikasi atau internet,” katanya pula.
Selain itu, Erwin menekankan pentingnya menjaga kenyamanan dan keamanan saat bertransaksi, baik itu menggunakan uang tunai maupun non-tunai. BI mendorong masyarakat untuk selalu berhati-hati dan memverifikasi keaslian uang rupiah melalui metode 3D (dilihat, diraba, diterawang). Lebih lanjut, penting untuk merawat dan melindungi uang dengan mematuhi prinsip 5 Jangan (jangan dilipat, jangan distaples, jangan diremas, jangan dicoret, dan jangan dibasahi) agar uang tetap dalam kondisi baik.
“Perhatikan dengan cermat saat bertransaksi, baik secara tunai maupun non-tunai, dengan menjaga kerahasiaan informasi pribadi, termasuk username, password, PIN, dan kode OTP (one-time password),” tambahnya.
Sebelumnya, Kantor Perwakilan BI Provinsi Bali telah memproyeksikan kebutuhan uang tunai di provinsi tersebut menjelang akhir tahun 2023, khususnya menjelang Hari Natal dan Tahun Baru 2024, diperkirakan mencapai Rp2,7 triliun. “Angka ini menunjukkan peningkatan sebesar 12,5 persen dibandingkan dengan kebutuhan uang pada periode yang sama menjelang Natal dan Tahun Baru akhir 2022, yang sebesar Rp2,4 triliun,” ungkap Erwin.
Sumber :
Selain itu, Erwin menekankan pentingnya menjaga kenyamanan dan keamanan saat bertransaksi, baik itu menggunakan uang tunai maupun non-tunai. BI mendorong masyarakat untuk selalu berhati-hati dan memverifikasi keaslian uang rupiah melalui metode 3D (dilihat, diraba, diterawang). Lebih lanjut, penting untuk merawat dan melindungi uang dengan mematuhi prinsip 5 Jangan (jangan dilipat, jangan distaples, jangan diremas, jangan dicoret, dan jangan dibasahi) agar uang tetap dalam kondisi baik.
“Perhatikan dengan cermat saat bertransaksi, baik secara tunai maupun non-tunai, dengan menjaga kerahasiaan informasi pribadi, termasuk username, password, PIN, dan kode OTP (one-time password),” tambahnya.
Sebelumnya, Kantor Perwakilan BI Provinsi Bali telah memproyeksikan kebutuhan uang tunai di provinsi tersebut menjelang akhir tahun 2023, khususnya menjelang Hari Natal dan Tahun Baru 2024, diperkirakan mencapai Rp2,7 triliun. “Angka ini menunjukkan peningkatan sebesar 12,5 persen dibandingkan dengan kebutuhan uang pada periode yang sama menjelang Natal dan Tahun Baru akhir 2022, yang sebesar Rp2,4 triliun,” ungkap Erwin.


